|
Istilah return atau imbalan/ pengembalian sering kita dengar dalam akuntansi
atau menajemen keuangan yang berarti sesuatu pengembalian sejumlah nilai uang
yang dapat dihasilkan nanti atas kegiatan pengorbanan sejumlah nilai uang
tertentu saat ini dalam suatu kegiatan misalnya: Membeli saham, membeli mesin,
membeli pabrik atau membuat alat tertentu. Dalam hal ini return yang dimaksud
dapat dengan mudah dikenali, dapat berupa dividen, profit dan dihitung dalam
persen untuk setiap kegiatan investasi. Estimasi perhitungan return diawal
sebelum melakukan investasi tentunya memberikan masukan bagi investor untuk
memutuskan apakah akan melakukan investasi atau tidak. Banyak metode yang
dipakai dalam menilai kegiatan investasi ini seperti NPV, IRR, ROI method, EVA
Method, Payback period.
Dapatkah konsep penilaian investasi yang sama diterapkan dalam menilai investasi
di teknologi informasi (TI) ?
Jawabnya tentu saja bisa. Hanya saja sifat dari return yang diharapkan dari
investasi TI tidak mudah diidentifikasi. Investasi TI seperti implementasi ERP,
e-business solution, knowleage management solution, Custumer Relationship
Management memerlukan investasi software, hardware, konsultansi, pelatihan dan
infrastruktur komunikasi. Sehingga sangat sulit membuat kaitan antara investasi
secara spesifik terhadap benefit yang diperoleh. Sehingga ada perbedaan
signifikan dalam sifat investasi dan sifat dari return investasi TI. Terutama
sifat return yang bersifat intangible dan relatif sulit di kuantifikasi.
Pendapat Michael E. Porter mengatakan bahwa investasi di TI memberikan
keunggulan bersaing bagi perusahaan, karena investasi TI yang melekat dalam
rangkai nilai (value chain) perusahaan potensial untuk menciptakan keunggulan
bersaing. Menurut Michael E. Porter ada dua kelompok tujuan perusahaan
mengadopsi teknologi informasi: A)Operational Efectiveness yang diartikan dapat
melakukan aktivitas yang sama lebih baik dari pesaing dan B) Strategic
positioning yang diartikan dapat melakukan kegiatan yang berbeda atau melakukan
kegiatan yang sama dengan cara yang berbeda.
Kombinasi kedua tujuan diatas menyebabkan perusahaan dapat berada di 4 kuadran
berikut yaitu: 1). Unfocus (Low Operational Efectiveness dan Low Strategic
positioning). 2). Operation Focus (High Operational Effectiveness dan Low
Strategic Positioning). 3). Market Focus (Low Operational Effeciency dan High
Strategic Positioning). dan 4). Dual Focus ( High Operational Effectiveness dan
High Strategic Positining).
Keputusan investasi TI adalah keputusan lanjutan yang dibuat setelah formulasi
strategi bisnis dan strategi TI. Keselarasan strategis (strategic allignment)
antara strategi bisnis dan strategi teknologi informasi disepakati merupakan hal
yang sangat berpengaruh terhadap return (Intangible benefit / value) dari
investasi TI. Ketidakselarasan akan terjadi dalam rentang dari — TI gagal
mensupport strategi bisnis sampai — strategi organisasi gagal me-utilisasi
sumber daya TI ( IT under utilization). Gap yang besar akan menyebabkan
rendahnya IT delivery value yang dalam hal ini adalah return. Sejatinya tentunya
return dapat diturunkan dari 4 posisi kuadran diatas.
Langkah-langkah penentuan investasi TI
Metodologi menghitung return merupakan suatu proses evolusi, tidak ada langkah
yang benar-benar scientific, mungkin beberapa elemen terkesan subjektif tetapi
paling tidak dapat dikatakan mendekati scientific. Tim ROI harus melakukan
pendekatan konsultatif dengan business leader dan implementator TI inti, untuk
menemukan cakupan projek ROI diantaranya: Penyiapan kasus untuk investasi TI,
memahami sifat dan timing benefit yang diharapkan dari investasi TI,
memproyeksikan biaya tetap dan tambahan, menurunkan rasio pengukuran benefit,
dan mengkuantifisir, serta menganalisa biaya manfaat melalui penghitungan
payback period dan IT Value Added. Tahapan yang perlu dilewati oleh Tim ROI
adalah:
1. Mengenali dan mengidentifikasi inefisiensi sistem saat ini. Misalnya: Jam
kerja tinggi untuk pekerjaan sederhana, duplikasi pekerjaan, jam supervisi
tinggi, laporan tidak reliable, masalah skalabilitas dan sebagainya.
2. Definisikan kebutuhan proses bisnis. Nyatakan dengan jelas kebutuhan bisnis
masa datang dan lakukan pencocokan proses bisnis dengan solusi TI.
3. Lakukan penilaian kualitatif melalui survey / kuesioner. Benefit secara
keseluruhan dibuat berbentuk feedback rating matrix yang dapat terdiri dari
parameter efisiensi yang diharapkan dalam proses internal, customer relationship
management dan good governance.
4. Lakukan penilaian kuantitatif melalui collective forecasting. Setiap benefit
dikuantifisir melalui proses estimasi / measurement ratio. Sebagai contoh: dalam
kasus solusi CRM estimasi peningkatan dalam layanan customer dapat diukur.
Selain melakukan hal-hal diatas tim ROI juga harus melakukan penilaian
kualitatif terhadap benefit melalui kuesioner, untuk 5 dimensi kunci bisnis
berikut: Posisi bersaing, manajemen dan arus informasi, pengendalian dan
efisiensi operasional, manajemen customer dan distributor serta suplier serta
Corporate image.
Akhirnya tim ROI harus dapat mengkuantifikasi peningkatan area yang telah
diidentifikasi melalui pengukuran rasio. Benefit yang dapat dikuantifikasi
melalui : Peningkatan call eficiency ratio, utilisasi waktu dan pengurangan
paper work, menurunnya kerusakan mesin karena monitoring lebih baik, penurunan
jumlah inventory karena manajemen inventory lebih baik, proses biling lebih
cepat dan akurat, peningkatan jumlah customer yang terlayani, pembuatan
keputusan lebih cepat dan lebih baik, tambahan revenue dari penjualan produk
atau jasa baru, dan lain-lain.
Bagaimanapun dalam melakukan kuantifikasi terhadap benefit investasi TI, selalu
saja ada faktor yang menyebabkan menurunnya nilai benefit yang akan didapat
diantaranya (Negative factor); Business Prosess Reengineering yang tidak
berjalan sebagaimana seharusnya, turnover over user, rendahnya orientasi TI
pegawai, competitor tidak melakukan investasi yang sama sehingga margin tidak
bersaing dll. Sehingga pengaruh dari faktor negatif dapat dipertimbangkan
sebagai diskon faktor terhadap ROI.
Justifikasi biaya atas investasi TI dapat diturunkan dari rumusan penghitungan
investasi sebagai berikut:
Net Realizable benefits
(total quantified benefit less total cost)
ROI (IT) = ____________________________________________
Total cost (capital + recurring)
Total Cost
Payback Period = ______________________________________
Total quantified benefit
EVA (IT) = IT ROI less Weigted average cost of capital
x
Total IT Investment
Kesimpulan:
Kesuksesan bahwa TI dapat men-deliver value bagi perusahaan dapat terealisasi
dengan adanya perencanaan TI dan implementasi yang terkendali. ROI adalah alat
ukuran yang baik digunakan pada saat akuisisi karena ROI dapat memberikan 1)
Justifikasi biaya dan biaya pemilikan 2) terpenuhinya estimasi benefit dan
akuntabilitas. Pengukuran IT benefit merupakan proses berkesinambungan. Perlu
adanya kriteria pengendalian untuk mengukur semua proses terkait seperti
akuisisi, implementasi, stabilisasi serta upgrade system. Kriteria mencakup
feasibility, benefit realization goals, audit dan survey performa TI. |